TEKNIS BUDIDAYA UDANG DENGAN TEKNOLOGI NASA

sale
TEKNIS BUDIDAYA UDANG DENGAN TEKNOLOGI NASA
Kategoribudidaya perikanan
Di lihat1014 kali
Harga Rp (Hubungi CS)
Beli Sekarang
0274-5306545
081327504507
087839811594
D3A510D5
purwo@pupukkelapasawit.com

Udang merupakan komoditas yang penting dalam dunia perikanan,karena nilai ekonominya yang tinggi.Ada dua jenis udang yang dibudidayakan di Indonesia yaitu udang Windu (Penaeus monodon ) dan udang Vanemei ( Lithopenaeus vannamei ).

PT.NATURAL NUSANTARA sejak tahun 2002 telah mempunyai paket teknologi organik ( ramah lingkungan ) yang memenuhi aspek K-3 ( Kuantitas ,Kualitas dan Kelestrian ) untuk meningkatkan produktivitas sekligus melestarikan kawasan budidaya tambak udang.Teknologi NASA tersebut berupa pupuk TAMBAK ORGANIK NUSANTARA (TON ),suplemen nutrisi VITERNA,POC NASA,HORMONIK serta PROBIOTIK TANGGUH.

Berikut ini adalah beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang:

1.Lokasi Lahan
Lokasi lahan yang bik untuk budidaya udang adalah daerah pantai dengan tanah bertekstur liat atau liat berpsir yang mampu menahan air dn tidak mudah pecah. Ada air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26-300 C dan bebas dari pecemran bahan kimia berbhaya. Mmempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.Muah mendapatkan sarana produksi yaitu benur,pakan,pupuk,obat-obatan dan lain sebagainya.Pada tambak intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau Generator sendiri.

2.Berdasarkan intensitas dan padat tebar,budidaya udang dibedakan menjadi:

-Tambak tradisional dengn ciri biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau.Ukuran dan bentuk petakan tidakteratur,belum menggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur dan pada tebar rendah.
-Tambak semi intensif dengan cir ilokasi tambak sudah pada daerah terbuka ,bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas ( 1-3 ha/petakan),padat penebaran masih rendah,penggunakan pakan buatan masih sedikit.
-Tambak intensif dengan ciri lokasi di daerah yang khusus tambak dalam wilayah yang luas,ukuran petakan dibuat kecil 9 ukuran dari 1ha ),padat tebar tinggi ,sudah menggunakan kincir,pupuk serta program pakan yang baik.

tambak udang

PENGOLAHAN LAHAN
Untukmendapatkan hasil panen yang baik,sekaligus menjaga kelestarian lingkngan budidaya,wajib hukumnya dilakukan pengolahan lahan yang meliputi:

*Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan,kotoran udang dan dariudang yang mati.Kotoran tersebut harus dikeluarkan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.

*Pembalikan Tanah.Tanah didasar tambak perlu diblik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas racun (H2S dan Amoniak) yang terikt pada partikel tanah,untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit penyakit karena terkena siar matahari/ultra violet.

*Pengeringan.Setelah tanah dikapur,biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah,untuk membunuh bibit penyakit.

*Perlakuan pupuk TON dan Probiotik TANGGUH .untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat prtumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun,lahan perlu beri perlakuan TON dosis 2,5 kg /ha dan Probiotik TANGGUHke dalam air,kemudian aduk hingga larut.Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

*Pemasukan air.Setelah dibiarkan 3 hari,air dimasukan ke tambak.Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan 3 hari ,untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON.Setelah itu air dimasukan hingga minimal 80 cm.Perlakuan saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak.air dikapur dengan dolomit atau zeolit dengan dosis 300kg/ha.

PEMILIHAN BENUR
Benur (benih uran/udan ) mempunyai tingkat kehidupan (survival Rate/SR )yang tinggi,daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi,berwarna tegs/tidak pucat baik hitam maupun merah,aktif bergerak,sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap.Penebaran Benur dilkukan setelah air jadi,yaitu setelah plankton tumbuh yang tandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm.Penebaran benur ilakukan dengan hati-hati,karena benur masih lemah mudh stres pada lingkungan yang baru.

Tahab penebaran benur adalah:
~Adaptasi suhu.Plastik wadah benur direndam selama 15-30 menit,agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan didalam plastik.

~Adaptasi udara.Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungya.Biarkan terbuka dan terapung selama 15-30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalan air di plastik.

~Adaptasi kadar garam/salinitas.Dilakukan dengan cara memercikan air tambak ke dalam plastik selama 10menit.Tujuan agar erjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya,sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.

~Pengeluaran benur .Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak.Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak.Sisa benur yng tidak keluar sendiri,dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

PEMELIHARAAN

Pada awal budidaya,sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengn waringatau hapa,untuk memudahkan pemberian pakan.Sekt tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang,seelah 1 minggu sekat dapat dibuka.Pada bulan pertama yang harus diperhtikan adalah kulitas air harus selalu stabil.Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhdapperubahan kondisi air yang drastis.Untukmenjaga kualitas dan kestabilan air,setiappenambahan air baruatau maksimal 15 hari sekali di beri perlakuan TON dengan dosis 1 kg/ha dan ‪‎Probiotik‬ TANGGUH‬ dosis 1/lt/ha.

Mulaiumur 3 hari dilakukan sampling untuk menetahui perkembangan udang melalui pertambahn berat udang.Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size ( jumlah udang kg) 250-300.Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali.Produksi bahan organik terlarut yang berasal dari kotoran dan sika pakan sudah cukup tinggi,oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur zeolit setiap beberapa hari dengan dosis 400kg/ha.Pada etiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakun TON dengan dosis 1 kg/ha.

Mulai umur 60 hari ke atas,yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol kondisi udang.Setiap menunjukkan kondisi air yang jelek ( ditandai dengan warna keruh,kecerahan rendah ) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan ‪‎TON‬ 1 kg/ha.Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi,bahan organik dalam tambak semakin tinggi,menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun,akibatnya udang mudah mengalami stres,yang ditandai dengan tidak mau makan,koto dan diam di sudut-sudut tambak,yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.

PANEN

Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal ) atau karena terserang penyakit (panen emergency ).anen normal biasanya dilakukan pada umur 90 hari,dengan size norml rat-rata 40-50.Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih ).Selin itu ada panen persial yaitu untuk mengurangi populasi /kepadatan uadang.Udang yang dipanen dengn syarat mutu yang baik adalah yang b erukuran besrkulit keras, bersih,licin, bersinar,alat tubuh lengkap,masih hidup dan segar,saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari,agar udang tidak terkena panas sinar matahar sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

PAKAN UDANG

Pakan udang ada dua macam,yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton,siput-siput kecil,cacing kecil,anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk).Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet.Pada budidaya yang semi intensif apalgi intensif,pakan buatan sangat diperlukan.Karena dengan padat penebaran yang tinggi,pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan uadang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.Pakan pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah kg ,selanjutny tiap 7 hari sekal ditambah 1 kg hingga umur 30 hari.Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan.Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3jam,size 166-66 adalah 2,5 jam,size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.nutrisi lengkap dalam pakan.untuk itu,pakan harus dicampur dengan VITERNA,POC NASA dan HORMONIK yang mengandung mineral –mineral penting,protein,lemak dan vitamin dengan dosis 1 tutup botol ( 10 cc)/2-3 kg pakan.Untuk meratakan pncampuran,bisa ditambah dengan air secukupnya.

Penyakit

Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah:
*Bintik Putih pada udang windu.disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus ).seranganya sangat cepat,dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati.Gejalanya:jika udang masih hidup,berenang tidak teratur dipermukaan dan jika menambrak tanggul langsung mati.adanya bintik putih di cangkang (Carapace ),sangat peka terhadap perubahan lingkungan.Virus dapat berkembang biak dengan cepat pada lingkungan tambak yng jelek dan kemudian menyebar liwat inang,yaitu kepiting dan udang liar,terutama udang putih.Belum ada obat untuk penyakit ini.Cara mengatasinya:Dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolm budidaya.

*Penyakit Myonecrosis atau yang lebih dikenal dengan penyakit MIO pada udang Vanamei.Ciri khas dari udang terkena penyakit ini adalah adanya kematian disebagian/beberapa segmen tubuh udang.Udang yang baru terkena Mio,akan terlihat ada bagian tubuh udang yang dagingnya berubah warna menjadi putih kemudian lama kelamaan akan membesar dan menyebar ke segmen di sampingnya yang lama kelamaan berubah warna menjadi merah.Akibat dari penyakit ini adalah adanya kematian udang secara kontinyu.Kematian biasanya akan meningkat pada saat bulan purnama atau bulan mati.Penyakit ini biasanya muncul pada musim panas pada tambak yang mempunyai kulitas air kurang stabil dan terjadi fluktuasi suhu pada pH yang terlalu tinggi,yaitu tambak dengan kepadatan plankton tinggi dan sukar dikendalikan.Selain itu juga sering muncul pada tambak dengan kandungan bahan organik tinggi.

*Penyakit kotoran putih (White Feces Desease ).Penyakit ini bisa menyerang baikpada udang eindu maupun pada udang vanamei.Ciri yang khas dari penyakit ini adalah munculnya kotoran putih yang mengambang i tambak.Penyebab munculny penyakit ini adalah penurunan kualitas air akibat akumulasi bahan organik di tambak.Gejala penyakit dimulai dari penurunan nafsu makan,biasanya muncul pada usia di atas 60 hari.Walaupun tidak mematikan secara langsung,namun bisa merugikan karena udang menjadi keropos,daging tidak maksimal dan angka konversi pakan tinggi.

Penyakit tadi walaupun penyebab langsungnya adalah infeksi agen pembawa penyakit,namunpemicuny adalah penurunan kualitas air.Oleh karena itu pemberin TON secara rutin ke air tambak dengan dosis 12 kg per ha tiap15 hari sekali mutlak harus dilakukan.Akan lebih baik lagi juga disertai dengan pemberin Probiotik TANGGUH dosis1/2 lt/ha yang berperan menguraikan bahan organik menjdi bahan tidak beracun.Selain itu kapur Dolomit atau zeolit juga harus diberikan pada saat tertentu yang memerlukan,misalnya setelah air baru,setelah hujan,pada saat udang mengambang dan lain-lain.

  • TEKNIS BUDIDAYA UDANG DENGAN TEKNOLOGI NASA
web pupukkelapasawit.com memberikan informasi produk Pupuk Herbal Dan siap kirim ke seluruh propinsi kota kabupaten yang ada di indonesia seperti di kota Ambon | Ambarawa | Balikpapan | Banda Aceh | Bandar Lampung | Bandung | Banjarbaru | Banjarmasin | Banyuwangi | Batam | Batulicin | BauBau | Bekasi | Bengkulu | Berau | Biak | Bima | Blitar | Bogor | Bondowoso | Bone | Bontang | Bulukumba | Bulungan | Cianjur | Ciawi | Cibubur | Cikarang | Cilacap | Cilegon | Cimanggis | Cirebon | Citeureup | Denpasar | Depok | Dumai | Duri | Garut | Gianyar | Gorontalo | Gresik | Handil (Kaltim) | Jakarta Barat | Jakarta Pusat | Jakarta Selatan | Jakarta Timur | Jakarta Utara | Jambi | Jayapura | Jember | Jepara | Karawang | Kediri | Kendari | Kolaka | Kota Bangun (Kaltim) | Kotamobagu | Kudus | Kupang | Kutai | Lhokseumawe | Lubuk Linggau | Lumajang | Luwuk | Madiun | Magelang | Makassar | Malang | Malinau | Manado | Manokwari | Mamuju | Mataram (Lombok) | Medan | Melak | Merauke | Mojokerto | Nabire | Negare (Bali) | Nganjuk | Nunukan | Padang | Palangkaraya | Palembang | Palopo | Palu | Pangkalpinang | Pare-Pare | Paser (Kaltim) | Pasuruan | Pati | Pekalongan | Pekanbaru | Pematangsiantar | Penajam (Kaltim) | Pinrang | Polman | Pontianak | Probolinggo | Purwakarta (Jabar) | Purwokerto (Jateng) | Rembang | Riau | Salatiga | Samarinda | Samboja (Kaltim) | Sangatta | Sanur | Semarang | Sengkang | Sentul | Serang | Sidoarjo | Sidrap | Singaraja | Singkawang | Sintang | Situbondo | Solo | Soppeng | Sorong | Sorowako | Subang | Sumedang | Sukabumi | Surabaya | Tabanan | Tana_Toraja | Tanah Grogot (Kaltim) | Tangerang | Tanjungkarang | TanjungPinang | Tanjung Tabalong | Tarakan | Tasikmalaya | Tenggarong | Tegal | Ternate | Timika | Tuban | Tulung Agung | Ungaran | Yogyakarta